Fenomena tekanan osmotik dapat kita amati dalam banyak contoh yang menarik. Untuk mempelajari kadar sel darah merah, yang terlindungi dari lingkungan eksternal oleh membran semipermeabel, biokimiawan menggunakan suatu teknik yang disebut hemolisis. Sel darah merah diletakkan dalam larutan hipotonik. Karena larutan hipotonik kurang pekat dibandingkan larutan di dalam sel, air bergerak ke dalam sel seperti yang diperlihat gambar 4 (b). Sel akan menggembung dan akhirnya pecah, membebaskan hemoglobin dan molekul lain.

Gambar 4. Sebuah sel dalam (a) larutan isotonik, (b) larutan hipotonik, dan (c) larutan hipertonik. Sel tetap tidak berubah dalam (a), mengembung dalam (b), dan mengerut dalam (c)
Pengawetan selai dan jeli yang dilakukan di rumah merupakan contoh lain dari penerapan tekanan osmotik. Gula dalam jumlah yang banyak ternyata penting dalam proses pengawetan karena gula membantu membunuh bakteri yang bisa mengakibatkan botulisme. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 4 (c), bila sel bakteri berada dalam larutan gula hipertonik (konsentrasi tinggi), air intrasel cenderung untuk bergerak keluar dari sel bakteri ke larutan yang lebih pekat lewat osmosis. Proses ini yang disebut krenasi (crenation), menyebabkan sel mengerut dan akhirnya tidak berfungsi lagi. Keasaman alami buah-buahan juga menghambat pertumbuhan bakteri.
Tekanan osmotik juga merupakan mekanisme utama dalam pengangkutan air ke bagian atas tumbuhan. Karena daun terus-menerus kehilangan air ke udara, dalam proses yang disebut transpirasi, konsentrasi zat terlarut dalam cairan daun meningkat. Air didorong ke atas lewat batang, cabang dan ranting-ranting pohon oleh tekanan osmotik. Diperlukan tekanan sebesar 10-15 atm untuk mengangkut air ke daun di pucuk pohon redwood di California, yang tingginya mencapai sekitar 120 m.
1 komentar:
Kembangkan lagi!
Posting Komentar